
SEMARANG – Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 Jawa Tengah menggelar tasyakuran HUT ke-68 di Wisma Karya Jalan Kiai Saleh No 1 pada Senin (10/11/2025). HUT ke-68 itu dijadikan momentum Kosgoro 1957 Jateng untuk memperkokoh dan menjadi tulang punggung Partai Golkar.
Pimpinan Daerah Kolektif (DPK) Kosgoro 1957, Mohammad Saleh, mengemukakan bahwa Kosgoro 1957 merupakan satu dari Tri Karya pendiri Partai Golkar, bersama Ormas MKGR dan Soksi. Karena itu, Kosgoro punya tanggung jawab untuk membesarkan dan memenangkan Partai Golkar pada Pemilu mendatang.
“Kosgoro 1957 Jateng siap menjadi tulang punggung Golkar. Tentu saja dengan bekerja keras untuk menaikkan perolehan suara Golkar pada Pemilu 2029 mendatang,” ujar Mohammad Saleh saat memberi sambutan dalam acara tasyakuran.
Tasyakuran HUT ke-68 Kosgoro 1957 di Wisma Karya Semarang yang berlangsung sederhana dan khidmat, diwarnai pemotongan tumpeng oleh Mohammad Saleh. Potongan tumpeng tersebut diserahkan kepada perwakilan ormas pendiri dan didirikan Golkar yang hadir pada acara itu seperti Soksi, AMPG, AMPI, KPPG, HWK, KPMDI, dan Satkar Ulama.
Dalam tasyakuran itu, Kosgoro 1957 Jateng juga memberikan santunan kepada anak panti asuhan. Mereka juga diberi sepatu gratis oleh Mohammad Saleh.

Selain memperkokoh dan menjadi tulang punggung Partai Golkar, lanjut Mohammad Saleh, kader Kosgoro 1957 juga harus berperan dalam kehidupan berbangsa, masyarakat dan negara. Tentu saja dengan melakukan kegiatan-kegiatan sesuai Tri Dharma Kosgoro yakni pengabdian, kerakyatan dan solidaritas,
“Pengabdian, kerakyatan dan solidaritas jadi pegangan kita dalam melaksanakan kegiatan, baik untuk Golkar maupun kegiatan kerakyatan lain. Dengan Tri Dharma itu saya optimistis Kosgoro 1957 Jateng bisa bermanfaat bagi Golkar dan Indonesia,” kata Mohammad Saleh yang juga Ketua DPD Golkar Jateng.
Melihat perkembangan zaman saat ini, Mohammad Saleh mengingatkan kader Kosgoro 1957 Jateng bahwa tantangan bangsa ke depan jauh lebih besar. Paham radikalisme bisa masuk ke masyarakat melalui jejaring internet.
“Belajar dari tragedi bom di SMAN 72 Jakarta, pelakunya diduga belajar merakit bom dari internet, itu menunjukkan paham radikalisme pun bisa masuk dari mana saja. Karena itu, kader Kosgoro harus waspada dan melindungi masyarakat serta keluarga terhadap penyebaran paham radikal melalui media sosial,” tandasnya. (MPO-JTG)

